Peace Goes To School 2026: 7 Langkah Penting Anak Muda Lawan Perundungan & Intoleransi di Sidoarjo

Peace Goes To School hadir di Sidoarjo sebagai ikhtiar nyata anak muda untuk melawan perundungan dan intoleransi di lingkungan sekolah. Program bertajuk Peace Goes To School The Series ini digelar untuk kedua kalinya di SMP Widya Wiyata Sidoarjo, digagas oleh Peace Leader Indonesia dan didukung AMAN Indonesia. Di tengah tantangan pergaulan remaja dan derasnya arus informasi, gerakan seperti ini mengingatkan kita: sekolah harus menjadi tempat paling aman untuk tumbuh, belajar, dan saling menghormati.

Apa Itu Peace Goes To School dan Mengapa Penting?

Peace Goes To School adalah gerakan edukatif yang mendorong budaya damai di sekolah melalui penguatan nilai saling menghargai, anti-kekerasan, serta keberanian bersikap ketika melihat ketidakadilan. Program ini menempatkan siswa bukan sekadar sebagai peserta, melainkan sebagai agen perubahan di ruang kelas, koridor sekolah, hingga ruang digital.

7 Langkah Penting Lawan Perundungan dan Intoleransi di Sekolah

  • Mengenali bentuk perundungan sejak dini: fisik, verbal, sosial (pengucilan), hingga cyberbullying.
  • Membangun keberanian moral: tidak ikut menertawakan, tidak ikut menyebarkan, dan berani berkata “cukup”.
  • Menguatkan empati dan komunikasi sehat: belajar mendengar, memahami perasaan teman, serta menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
  • Menanamkan sikap menghargai perbedaan: latar belakang, keyakinan, budaya, maupun cara berpikir tidak boleh menjadi alasan diskriminasi.
  • Mengaktifkan peran saksi (bystander): saksi tidak boleh diam; bisa menolong korban, mengalihkan situasi, atau melapor dengan aman.
  • Membuat kanal pelaporan yang aman: melibatkan guru BK/wali kelas dengan prinsip kerahasiaan dan perlindungan korban.
  • Mendorong komunitas sekolah yang kolaboratif: siswa, guru, dan orang tua menyepakati aturan anti-perundungan dan anti-intoleransi yang tegas.
READ  Banjir Kabupaten Cirebon 2025: 7 Fakta Penting yang Wajib Tahu Warga

Peran Anak Muda: Dari Peserta Menjadi Penggerak

Keunggulan gerakan seperti Peace Goes To School terletak pada kepemimpinan anak muda. Ketika siswa dilatih menjadi peace leader, mereka belajar memimpin dengan keteladanan—menguatkan teman yang rentan, meredam konflik, dan menciptakan suasana belajar yang lebih sehat. Ini sejalan dengan semangat pendidikan: membentuk manusia merdeka yang berani membela martabat sesama.

Dukungan Komunitas: Peace Leader Indonesia dan AMAN Indonesia

Digagas oleh Peace Leader Indonesia serta didukung AMAN Indonesia, kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak cukup dengan slogan. Ia membutuhkan program yang menyentuh pengalaman siswa secara langsung: berdialog, berlatih, dan menyusun komitmen bersama. Dengan hadirnya kolaborasi lintas komunitas, sekolah tidak berjalan sendiri menghadapi persoalan perundungan dan intoleransi.

Apa yang Bisa Dilakukan Sekolah Setelah Kegiatan?

  • Menyusun deklarasi sekolah aman yang disepakati siswa-guru dan dievaluasi berkala.
  • Membentuk tim sahabat sebaya untuk dukungan psikososial dasar dan rujukan ke guru pendamping.
  • Mengintegrasikan materi toleransi dan literasi digital pada proyek kelas atau kegiatan OSIS.
  • Menindak tegas pelaku dengan pendekatan edukatif: pemulihan korban, pembinaan pelaku, dan pencegahan berulang.

Peace Goes To School di Sidoarjo adalah pengingat kuat bahwa melawan perundungan dan intoleransi bukan tugas satu pihak, melainkan kerja bersama. Jika sekolah adalah rumah kedua, maka setiap anak berhak merasa aman di dalamnya. Mari kita rawat budaya damai—dimulai dari hal sederhana: menghargai, melindungi, dan berani bersuara saat ada yang disakiti.

Sumber rujukan: beritajatim.com – “Peace Goes To School Hadir di Sidoarjo, Gerakan Anak Muda Lawan Perundungan dan Intoleransi”.

Updated: Februari 15, 2026 — 12:01 pm