Imlek 2026: 7 Fakta Penting Sembahyang Syukur Umat Tridharma di Kelenteng Ban Hing Kiong Manado

Jelang Imlek, umat Tridharma di Kelenteng Ban Hing Kiong Manado menggelar sembahyang ucapan syukur sebagai wujud penghormatan kepada Tian, dewa-dewi, serta laku batin menyambut tahun baru dengan hati bersih dan niat baik. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan pelajaran tentang disiplin spiritual, kebajikan, dan hormat pada akar sejarah keluarga.

Makna Sembahyang Ucapan Syukur Jelang Imlek

Di momentum menjelang Imlek, sembahyang ucapan syukur memiliki pesan yang kuat: mengingat sumber rezeki, menata kembali sikap hidup, serta memohon keselamatan untuk keluarga dan masyarakat. Dalam tradisi Tridharma, syukur bukan hanya ucapan, tetapi diwujudkan melalui ketertiban ibadah dan komitmen berbuat baik.

  • Syukur sebagai pendidikan karakter: membiasakan rendah hati, tidak jumawa saat berhasil.
  • Introspeksi akhir tahun: menimbang kembali perbuatan, ucapan, dan niat.
  • Doa keselamatan: memohon kesehatan, kerukunan, dan kelancaran usaha.
  • Penguatan persaudaraan: ibadah bersama mempererat solidaritas umat.

Rangkaian Ibadah: Dari Kelenteng ke Rumah Abu

Rangkaian kegiatan dilakukan dari area kelenteng, lalu umat bergerak menuju rumah abu yang lokasinya tidak jauh dari tempat ibadah utama. Di sana, mereka melaksanakan sembahyang leluhur—sebuah tradisi yang menegaskan pentingnya menghormati orang tua dan generasi pendahulu.

  • Berawal di kelenteng: umat memanjatkan doa dan ucapan syukur jelang pergantian tahun.
  • Bergerak ke rumah abu: perjalanan singkat namun sarat makna, sebagai “jembatan” batin ke akar keluarga.
  • Sembahyang leluhur: mendoakan arwah keluarga, memelihara ingatan dan keteladanan.

7 Fakta Penting yang Perlu Dipahami Masyarakat

Agar publik memahami tradisi ini secara jernih dan hormat, berikut poin-poin penting yang patut diketahui:

  • 1) Dilakukan menjelang Imlek: sebagai persiapan spiritual menyambut tahun baru.
  • 2) Berpusat di Kelenteng Ban Hing Kiong Manado: salah satu kelenteng yang menjadi titik kegiatan umat Tridharma setempat.
  • 3) Ada unsur ucapan syukur: menegaskan nilai terima kasih atas perlindungan dan rezeki.
  • 4) Dilanjutkan ke rumah abu: menunjukkan kesinambungan antara ibadah ke-Tuhanan dan bakti keluarga.
  • 5) Sembahyang leluhur menjadi bagian penting: bakti (filial piety) dipandang sebagai pilar moral.
  • 6) Menguatkan harmoni sosial: tradisi keagamaan mengajarkan tertib, saling menghormati, dan damai.
  • 7) Bernilai edukatif bagi generasi muda: mengenalkan akar budaya, etika, dan tanggung jawab sejarah keluarga.
READ  Sekolah di Aceh Tamiang: 7 Langkah Penting Agar 38 Sekolah Cepat Beroperasi Kembali

Pelajaran Kebangsaan: Kerukunan adalah Energi Indonesia

Tradisi jelang Imlek di Ban Hing Kiong mengingatkan kita bahwa Indonesia berdiri di atas keragaman yang saling menopang. Ketika sebuah komunitas menjalankan ibadahnya dengan tertib dan khidmat, itu bukan hanya urusan internal umat—melainkan juga kontribusi nyata bagi ketenangan publik. Inilah semangat kebangsaan: berbeda-beda, namun tetap bergandengan tangan.

Penutup: Semoga rangkaian sembahyang ucapan syukur dan sembahyang leluhur ini menjadi teladan tentang syukur, bakti, dan kerukunan. Mari kita rawat saling hormat antarumat, karena dari situlah Indonesia bertambah kuat—dengan jiwa yang bening dan semangat yang menyala.

Updated: Februari 17, 2026 — 12:01 am