Kapitil Masuk KBBI: 7 Fakta Penting yang Wajib Tahu soal Ejaan Baku vs Bahasa Sehari-hari (2026)

Kapitil masuk KBBI dan langsung memantik perbincangan publik: mengapa kata yang terasa “gaul” atau sehari-hari tiba-tiba menjadi “resmi”? Di saat yang sama, muncul pula ejaan Tailan yang kerap dibandingkan dengan bentuk populer Thailand. Fenomena ini bukan sekadar urusan huruf, tetapi menyentuh identitas, kebiasaan berbahasa, hingga cara kita memandang otoritas kebahasaan.

Apa Itu “Kapitil” dan Mengapa Jadi Sorotan?

Di ruang kelas, rapat, hingga percakapan warga, kita sering menemukan kata yang hidup karena dipakai luas—meski belum tentu dianggap baku. Ketika “kapitil” dicatat dalam KBBI, sebagian orang menyambutnya sebagai pengakuan atas bahasa nyata; sebagian lain menganggapnya “menurunkan” standar kebahasaan.

  • KBBI pada dasarnya mencatat kata yang dipakai masyarakat, bukan hanya “menciptakan” kata.
  • Masuknya kata baru sering memunculkan reaksi emosional karena bahasa terkait martabat dan kebiasaan.
  • Perdebatan biasanya terjadi karena publik menyamakan “baku” dengan “paling benar” dalam semua situasi.

Tailan vs Thailand: Mengapa Ejaan Bisa Berbeda?

Kasus ejaan Tailan—yang diperbincangkan sebagai bentuk yang diselaraskan dengan kaidah—mengingatkan kita bahwa penyerapan nama asing ke bahasa Indonesia tidak selalu identik dengan bentuk internasionalnya. Bahasa memiliki sistem bunyi dan ejaan sendiri.

  • Penyesuaian ejaan dapat terjadi agar sesuai dengan kaidah pelafalan dan penulisan bahasa Indonesia.
  • Bentuk yang populer di publik (misalnya “Thailand”) bisa tetap dominan dalam penggunaan harian, meski ada padanan yang dibakukan.
  • Dalam praktik, konteks menentukan pilihan: dokumen resmi, pendidikan, media, atau percakapan santai.
READ  Bencana Hidrometeorologi Januari 2026: 7 Fakta Penting yang Wajib Tahu Warga

Mengapa Kita Bereaksi Keras terhadap Perubahan Kata?

Reaksi publik biasanya bukan semata menolak kata, melainkan mempersoalkan “siapa yang berhak menentukan.” Di sinilah peran lembaga kebahasaan sering dipahami keliru—seolah memerintah bahasa, padahal lebih sering berfungsi menata dan membakukan untuk kebutuhan tertentu.

  • Bahasa = identitas: perubahan terasa seperti mengubah kebiasaan dan rasa “milik bersama.”
  • Bahasa = kelas sosial: kata yang dianggap “kampungan/gaul” memicu stigma ketika menjadi baku.
  • Bahasa = pendidikan: banyak orang khawatir perubahan membingungkan siswa dan guru.
  • Bahasa itu hidup: kata baru muncul, makna bergeser, dan ejaan beradaptasi mengikuti pemakaian.

Baku Bukan Berarti Wajib Dipakai di Semua Situasi

Kunci literasi kebahasaan adalah memahami bahwa ragam baku adalah alat—terutama untuk komunikasi formal, pendidikan, administrasi, dan publikasi. Ragam sehari-hari tetap sah dalam ranahnya. Yang keliru adalah memaksakan satu ragam untuk semua kebutuhan.

  • Gunakan ragam baku untuk surat resmi, karya ilmiah, naskah kebijakan, dan materi belajar.
  • Gunakan ragam nonbaku untuk percakapan akrab, komunitas, dan ekspresi kreatif tertentu.
  • Ajarkan kepada pelajar: yang dinilai bukan “gaya paling benar,” melainkan ketepatan konteks.

7 Sikap Cerdas Menghadapi Kata Baru di KBBI

  • Cek sumber: baca entri KBBI dan catat kelas kata serta maknanya.
  • Pahami fungsi KBBI: KBBI membakukan untuk keperluan standar, bukan menghapus variasi.
  • Bedakan ranah: formal, semi-formal, dan informal memiliki kebutuhan berbeda.
  • Ajarkan literasi media: jangan terpancing potongan informasi tanpa konteks.
  • Hormati penutur: bahasa berkembang lewat pemakaian kolektif, bukan ejekan.
  • Gunakan padanan seperlunya: untuk tulisan resmi, ikuti pedoman; untuk komunikasi umum, utamakan keterpahaman.
  • Jaga semangat persatuan: bahasa Indonesia kuat karena adaptif, sekaligus teratur.

Penutup: Bahasa Indonesia Maju karena Terbuka dan Tertib

Masuknya kapitil ke KBBI dan perbincangan ejaan seperti Tailan adalah pengingat bahwa bahasa bukan museum—ia bergerak mengikuti zaman. Tugas kita sebagai warga literat adalah menjaga keseimbangan: disiplin dalam ragam baku, luwes dalam ragam sehari-hari, serta tetap mengayomi sesama penutur. Di situlah martabat bahasa Indonesia berdiri tegak: modern, cerdas, dan mempersatukan.

READ  Kerja Sama BRIN–Jabar 2025: 7 Langkah Penting Pengembangan Padi Unggul yang Wajib Tahu
Updated: Februari 12, 2026 — 12:01 am