Kisah Hari Terakhir Eyang Meri: 7 Fakta Penting yang Wajib Tahu Sebelum Wafat di Usia 100 Tahun

Kisah hari terakhir Eyang Meri menjadi pengingat yang menyejukkan: usia panjang adalah anugerah, tetapi kesehatan tetap harus dijaga dengan disiplin dan dukungan keluarga. Meriyati Hoegeng—yang akrab disapa Eyang Meri—dikabarkan sempat menjalani perawatan rumah sakit sebanyak dua kali sebelum akhirnya wafat pada usia 100 tahun, setelah kondisi kesehatannya menurun.

7 Fakta Penting Menjelang Wafatnya Eyang Meri

  • Usia 100 tahun menjadi penanda perjalanan panjang hidupnya. Kepergian Eyang Meri menutup satu abad pengalaman, keteladanan, dan cerita keluarga yang membekas.
  • Kondisi kesehatan sempat menurun. Dalam fase-fase akhir kehidupan, penurunan kondisi dapat terjadi perlahan atau tiba-tiba, dan membutuhkan pemantauan yang tenang serta terukur.
  • Sempat dua kali dirawat di rumah sakit. Perawatan medis dilakukan sebagai upaya penanganan ketika kondisi tidak memungkinkan ditangani mandiri di rumah.
  • Perawatan menjadi bagian dari ikhtiar keluarga. Langkah membawa lansia ke fasilitas kesehatan adalah bentuk tanggung jawab: memastikan penanganan terbaik, sekaligus memberi rasa aman.
  • Hari-hari terakhir kerap diwarnai perhatian lebih intens. Pada usia lanjut, dukungan emosional—kehadiran, komunikasi hangat, dan pendampingan—sering kali sama pentingnya dengan tindakan medis.
  • Kisah ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan keluarga. Rencana pendampingan lansia (jadwal kontrol, obat, nutrisi, hingga kontak darurat) membantu keluarga lebih sigap saat kondisi berubah.
  • Kepergian menjadi ruang refleksi bagi publik. Cerita Eyang Meri mengajak kita menata ulang prioritas: merawat orang tua, menghargai waktu, dan memperbanyak amal baik selagi ada kesempatan.

Pelajaran Edukatif: Merawat Lansia dengan Bermartabat

Kisah Eyang Meri juga membawa pelajaran praktis untuk keluarga yang mendampingi lansia. Perawatan terbaik bukan semata soal fasilitas, melainkan kombinasi antara pengetahuan, ketenangan, dan kasih sayang yang konsisten.

  • Pantau tanda penurunan kesehatan. Perubahan nafsu makan, pola tidur, kebingungan, atau mudah lelah perlu dicatat dan dikonsultasikan.
  • Jangan menunda pemeriksaan. Jika keluhan berulang atau memburuk, pemeriksaan dini membantu dokter menentukan langkah yang tepat.
  • Bangun komunikasi yang menenteramkan. Lansia membutuhkan rasa aman; bahasa lembut dan pendampingan rutin dapat mengurangi kecemasan.
  • Siapkan dukungan keluarga. Pembagian peran antaranggota keluarga mencegah kelelahan pendamping utama (caregiver).
READ  Pemulihan Psikologis Korban Banjir Bandang Pemalang: 7 Langkah Penting yang Wajib Tahu

Penutup: Menghidupkan Semangat Bakti di Tengah Keluarga

Kepergian Eyang Meri di usia 100 tahun mengingatkan kita bahwa setiap fase kehidupan layak dijalani dengan hormat dan penuh perhatian. Mari jadikan kisah ini sebagai dorongan untuk lebih peduli pada kesehatan keluarga, lebih dekat pada orang tua, dan lebih siap mendampingi lansia dengan martabat—karena bakti yang tulus adalah warisan paling bernilai.

Sumber referensi: Harian Jogja (03/02/2026).

Updated: Februari 4, 2026 — 10:59 am