Komunikasi Autisme: 7 Pelajaran Penting yang Wajib Tahu agar Tak Terjebak Sungkan & Basa-basi

Komunikasi autisme kerap tersendat bukan semata karena “cara bicara” individu autistik, melainkan karena kebiasaan budaya kita: sungkan, basa-basi, dan dorongan untuk cepat “membenahi” alih-alih sungguh-sungguh memahami. Di banyak situasi sosial di Indonesia, komunikasi dianggap berhasil jika rukun dan tidak menyinggung. Padahal, bagi sebagian orang autistik, gaya komunikasi yang terlalu berputar-putar justru membuat pesan kabur, melelahkan, dan rawan disalahpahami.

Mengapa budaya sungkan dan basa-basi bisa menghambat?

Budaya sungkan membuat kita sering menahan informasi penting, menyampaikan maksud secara tidak langsung, atau berharap lawan bicara “paham sendiri”. Basa-basi juga kerap menjadi gerbang percakapan yang panjang, padahal tidak semua orang memproses isyarat sosial (social cues) dengan cara yang sama.

  • Pesan jadi tidak jelas: maksud utama tertutup oleh kalimat pengantar, kode, atau sindiran halus.
  • Terjadi salah tafsir: ekspresi datar atau respons singkat dapat keliru dianggap tidak sopan.
  • Tekanan untuk “menyesuaikan”: individu autistik didorong mengikuti standar sosial yang tidak ramah akses, bukan diajak menemukan cara komunikasi yang saling cocok.

Kesalahan umum: fokus membenahi, bukan memahami

Dalam banyak interaksi, lingkungan cenderung menilai perbedaan sebagai “masalah” yang harus diperbaiki: disuruh lebih ramah, diminta lebih banyak basa-basi, atau dipaksa menatap mata. Pendekatan seperti ini sering memindahkan beban sepenuhnya kepada individu autistik—padahal komunikasi adalah tanggung jawab bersama.

  • Menuntut kontak mata sebagai patokan sopan, tanpa memahami bahwa sebagian orang autistik lebih nyaman fokus pada isi percakapan.
  • Menganggap kejujuran sebagai kekasaran, padahal bisa jadi itu gaya komunikasi yang lugas.
  • Memberi “kode” (“ya sudah, terserah”) sambil berharap dipahami, lalu kecewa ketika ditanggapi secara literal.
READ  Kerja Sama BRIN–Jabar 2025: 7 Langkah Penting Pengembangan Padi Unggul yang Wajib Tahu

7 pelajaran penting (praktik sederhana) agar komunikasi lebih inklusif

  • 1) Utamakan jelas, bukan berputar: sampaikan inti kebutuhan/permintaan di awal, baru beri konteks seperlunya.
  • 2) Pakai kalimat konkret: hindari petunjuk tersirat. Contoh: “Tolong kirim file jam 3 sore” lebih membantu daripada “Nanti kalau sempat…”
  • 3) Tanyakan preferensi: “Kamu lebih nyaman komunikasi lewat chat atau langsung?” Ini sederhana, tetapi sangat menghormati.
  • 4) Beri waktu memproses: jangan buru-buru menyimpulkan. Diam sejenak bisa berarti sedang berpikir, bukan menolak.
  • 5) Konfirmasi pemahaman: “Aku tangkapnya begini, benar?” mengurangi salah paham tanpa menggurui.
  • 6) Kurangi basa-basi yang tidak perlu: pembuka singkat boleh, namun jangan menutup inti pesan dengan lapisan sosial yang panjang.
  • 7) Hargai perbedaan ekspresi: ekspresi wajah/intonasi tidak selalu mencerminkan niat. Fokus pada isi dan kesepakatan.

Contoh kalimat yang lebih ramah dan tegas

  • Daripada: “Kayaknya kamu kurang sopan deh.” Gunakan: “Kalau kamu setuju, coba gunakan kalimat ‘tolong’ saat meminta bantuan.”
  • Daripada: “Ya sudah terserah.” Gunakan: “Aku pilih opsi A. Kamu setuju atau ingin opsi B?”
  • Daripada: “Nanti kita lihat ya.” Gunakan: “Kita putuskan besok pukul 10.00.”

Peran keluarga, sekolah, dan tempat kerja

Komunikasi inklusif bukan sekadar etika personal; ini juga soal kebijakan dan budaya lembaga. Keluarga dapat menciptakan rumah yang aman dari ejekan dan tuntutan “normal”. Sekolah dapat mengajarkan literasi neurodiversitas, bukan hanya disiplin sosial yang seragam. Tempat kerja dapat membuat aturan komunikasi yang jelas—agar semua orang, termasuk yang neurodivergent, bisa bekerja tanpa harus menebak-nebak.

  • Keluarga: bangun rutinitas komunikasi yang jelas (jadwal, aturan sederhana, kalimat langsung).
  • Sekolah: latih guru menggunakan instruksi spesifik dan penilaian yang adil terhadap gaya komunikasi.
  • Tempat kerja: biasakan ringkasan tertulis, agenda rapat jelas, dan ekspektasi tugas yang terukur.
READ  Karapan Sapi Sakak 2025: 7 Fakta Penting yang Wajib Tahu dari Probolinggo

Penutupnya sederhana namun menohok: budaya sungkan dan basa-basi tidak salah, tetapi menjadi masalah ketika menghalangi pemahaman. Mari bergeser dari kebiasaan “membenahi orang” menuju keberanian “membenahi cara kita berkomunikasi”. Jika kita ingin Indonesia yang benar-benar ramah dan berkeadilan, mulailah dari percakapan yang jelas, hormat, dan manusiawi—terutama dalam komunikasi autisme.

Updated: Januari 23, 2026 — 12:01 am