Radikalisme Anak di Jatim: 11 Temuan Menohok & Penting Literasi Digital 2026

Radikalisme anak kini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dan keluarga. Di Jawa Timur, terungkap temuan tentang 11 anak yang terpapar radikalisme melalui media sosial—sebuah pola baru yang memanfaatkan gawai, ruang privat, dan arus konten yang sulit diawasi. Situasi ini menegaskan satu hal: literasi digital bukan sekadar keterampilan, melainkan benteng karakter di era informasi.

Pola Baru Radikalisme: Menyasar Anak Lewat Media Sosial

Jika dulu radikalisme banyak menyebar lewat pertemuan tertutup atau jaringan luring, kini pergerakannya lebih halus dan cepat: menyusup ke keseharian anak melalui platform digital. Anak-anak, yang sedang berada pada fase mencari jati diri, kerap menjadi sasaran empuk karena rasa ingin tahu tinggi dan belum matang dalam menyaring informasi.

  • Konten dikemas menarik (video singkat, meme, potongan ceramah, atau narasi emosional).
  • Pendekatan personal melalui pesan langsung, grup tertutup, dan pertemanan di platform sosial.
  • Teknik “penguatan identitas” dengan membenturkan “kami vs mereka”, membangun rasa paling benar, dan menumbuhkan kebencian.
  • Eksploitasi isu sosial untuk memancing emosi: ketidakadilan, konflik, dan sentimen kelompok.

11 Kasus di Jatim: Mengapa Ini Menjadi Temuan Menohok?

Angka 11 anak bukan sekadar statistik. Ini menandakan adanya celah pengawasan dan pendampingan yang harus dibenahi bersama. Pada usia anak dan remaja, paparan ideologi ekstrem dapat memengaruhi cara berpikir, pergaulan, hingga perilaku sehari-hari.

  • Menunjukkan pergeseran target: dari orang dewasa ke anak-anak.
  • Membuktikan medsos sebagai kanal utama penyebaran paham ekstrem.
  • Menguatkan urgensi sekolah dan keluarga untuk memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital.
READ  Isu Lingkungan sebagai Agenda Strategis ASEAN: Momentum Pendidikan untuk Memperkuat Stabilitas Kawasan

Mengapa Anak Rentan Terpapar?

Kerentanan anak bukan karena “lemah”, melainkan karena mereka sedang bertumbuh. Lingkungan digital yang agresif dapat mengalahkan pendampingan yang minim.

  • Rasa ingin tahu tinggi tanpa bekal verifikasi informasi.
  • Butuh pengakuan sehingga mudah tertarik komunitas yang memberi “rasa memiliki”.
  • Kurang pendampingan saat mengakses internet, terutama di ruang privat.
  • Algoritma platform dapat mendorong konten serupa terus-menerus (echo chamber).
  • Minim literasi emosi: mudah terpancing narasi marah, takut, atau benci.

Peran Literasi Digital: Benteng yang Wajib Diperkuat

Pesan kunci dari temuan ini selaras dengan peringatan para pakar media: literasi digital adalah kebutuhan penting. Literasi digital bukan cuma bisa menggunakan aplikasi, melainkan kemampuan berpikir kritis, beretika, dan aman di ruang digital.

  • Literasi informasi: membedakan fakta, opini, propaganda, dan manipulasi.
  • Literasi keamanan: memahami privasi, jejak digital, dan risiko grup tertutup.
  • Literasi etika: menghormati perbedaan, anti-perundungan, dan anti-ujaran kebencian.
  • Literasi berpikir kritis: bertanya “siapa yang diuntungkan?” dan “apa buktinya?”.

7 Langkah Praktis Mencegah Paparan Radikalisme pada Anak

Upaya pencegahan paling efektif dimulai dari hal-hal sederhana yang konsisten. Berikut langkah yang bisa dilakukan keluarga, sekolah, dan komunitas.

  • Bangun komunikasi hangat setiap hari: tanyakan apa yang ditonton, diikuti, dan dibicarakan anak di medsos.
  • Ajarkan teknik cek fakta: periksa sumber, bandingkan berita, dan kenali judul provokatif.
  • Buat aturan gawai yang jelas: waktu layar, aplikasi yang boleh, serta pendampingan sesuai usia.
  • Kenalkan tanda konten ekstrem: ajakan membenci, menyesatkan kelompok lain, atau memutlakkan kebenaran.
  • Latih anak berani bilang “tidak”: ketika diajak masuk grup rahasia atau diminta menyebarkan materi tertentu.
  • Perkuat pendidikan karakter: toleransi, empati, dan cinta Tanah Air dalam praktik, bukan slogan.
  • Kolaborasi sekolah–orang tua: sosialisasi literasi digital, konseling, dan jalur pelaporan yang aman.
READ  Jaringan Komunikasi Pascabanjir Aceh Cs Disorot: Provider Diminta Gercep Pulihkan Sinyal!

Apa yang Perlu Dilakukan Jika Anak Sudah Terpapar?

Jika muncul gejala perubahan perilaku yang drastis, jangan panik dan jangan menghakimi. Pendekatan yang tepat adalah pendampingan, pemulihan, dan rujukan pada pihak berwenang/ahli bila diperlukan.

  • Mulai dari dialog: dengarkan alasan, pengalaman, dan sumber kontennya.
  • Kurangi paparan: evaluasi akun yang diikuti, grup yang diikuti, dan histori tontonan.
  • Libatkan konselor/guru BK: agar pendampingan lebih sistematis.
  • Koordinasi dengan pihak terkait: jika ada indikasi ajakan kekerasan atau jaringan terorganisir.

Temuan 11 anak di Jatim terpapar radikalisme lewat medsos adalah panggilan “Semangat 45” untuk bertindak: melindungi generasi muda dengan ilmu, keteladanan, dan keberanian bersikap kritis. Mari jadikan literasi digital sebagai budaya di rumah dan sekolah—agar anak tumbuh merdeka berpikir, kuat berkarakter, dan tetap cinta Indonesia.

Updated: Januari 10, 2026 — 12:01 am